Rabu, 17 Juni 2015

Flashpacking Jogja

Dengan bermodalkan niat dan nekat aku bisa mewujudkan travelling ku yang selanjutnya. Yogyakarta.

Sebenarnya ini sudah di rencanakan jauh-jauh hari tapi ternyata ngetripnya tetap mendadak. Ceritanya lagi liat-liat tiket pesawat nih, tiba-tiba kok ada yang beda dan ternyata itu tiket murah. Haha. Tanpa pikir panjang akhirnya aku putuskan mengambil penerbangan itu tepatnya 1 hari sebelum keberangkatan. varokah bener. Ibu ku dan semua teman-temanku bilang aku gila, tapi aku tetap pada pendirian. Ngegembel sendirian di kota orang. Hehe.

Jam menunjukkan pukul 11.37 waktunya shalat zuhur bagian indonesia tengah. Saya sampai di bandara adi sutjipto lalu shalat di bandara trus melanjutkan perjalanan ke candi prambanan. Tapi harapan tak sesuai kenyataan. Hari itu jogja macet total di tambah trans jogja rute 1A yang mengarah ke prambanan tidak bisa hadir, akhirnya perjalanan ku di alihkan oleh petugas ke jalur 1B yang ternyata itu keputusan sesat si petugas yang membuat aku harus mutar-mutar keliling jogja selama 2 jam. Di dalam trans jogja yang kadang lapang dan sempit itu aku menahan lapar, haus, capek, dan kantuk semua komplit jadi satu.

Setelah 2 jam mutar-mutar aku kembali “lagi” ke shelter bandara dan naik jalur 1A. Dan akhirnya, aku beneran menuju prambanan. Sebelum ke prambanan aku makan dulu nasi campur di belakang shelter prambanan yang murah banget cuma 11.500 udah dapat nasi + teh hangat + air mineral. Di Batam uang segitu cuma dapet nasi padang doang (-_-). Perut sudah terisi, badan sudah segar, saatnya lanjut jalan 1 km menuju prambanan. Masuk prambanan aku di suguhi pemandanan orang yang lalu lalang kesana kemari, bus-bus antar kota pun bertebaran di mana-mana maklum aku pergi saat weekend dan libur sekolah jadi rame banget pengunjung yang di dominasi oleh cabe-cabean dan terong-terongan saat itu. Hahaha.

Masuk prambanan aku hanya mengambil rute ke prambanan aja dan gak ngambil rute ke Ratu Boko. Prambanan, meski sudah banyak di lakukan perbaikan tapi tetap tidak menghilangkan keindahannya. Dan walaupun sudah sering lihat dari media manapun, aku tetap takjub melihatnya sendiri.

Setelah lelah muter-muter dan foto-foto aku memutuskan untuk cari penginapan di malioboro. Aku kembali ke shelter trans jogja untuk mengambil rute 1A lagi yang menuju malioboro. Sampai di malioboro aku pun langsung melangkahkan kaki di jl. Sosrowijayan untuk cari penginapan. Banyak sekali orang yang menawarkan penginapan, tapi aku tolak dengan sopan. Lalu dengan sok tau aku masuk ke gg. II di jl. Sosrowijayan, tak jauh berjalan aku menemukan losmen yang sederhana, sebenarnya itu rumah tapi di sulap jadi losmen oleh pemilik rumah, jadi deh nginapnya bareng pemilik rumah yang baik banget itu. Istirahat di losmen 2 jam sambil ngecharge hp yg lowbet setelah itu lanjut wisata malam di jogja (ini yang aku tunggu) yeee..... dengan bermodalkan hape canggih yang selalu setia bersamaku, walau kondisi badan yang amat lelah dan cuaca juga yang kurang bersahabat saat itu tidak membuatku menyerah untuk berjalan kaki dari malioboro menuju alun-alun kidul. Sempat ingin merasakan naik andong tapi saat saya bertanya dengan mas Stefanus dia bilang “nikmati jogja dengan jalan kaki bro, jogja indah saat malam dan terkenal dengan jalan kakinya”. Dari perkataannya saya langsung exciting dan langsung aja jalan kaki pulang pergi sampai hampir lepas engsel di kaki ini. Haha.

Di alun-alun aku makan sambil menikmati pemandangan orang – orang yang lalu lalang, di tambah becak – becak lampu yang makin menambah indah suasana makan malam sendirian ku saat itu. Selesai makan aku langsung lihat-lihat 2 pohon beringin yang sering di bicarakan orang-orang itu. Banyak yang coba melewatinya dengan berhasil dan banyak juga yang tidak berhasil. Aku sendiri? Jangan di tanya, sudah pasti berhasil dong. Tapi gak pake penutup mata. Ahahaha. Gak seru? Gak apa, yang penting aku sudah puas jalan-jalan. Waktu menunjukkan pukul 22.00 aku memutuskan pulang ke losmen untuk istirahat. Karena besok mas stefanus udah janji mau anterin ke borobudur dan lihat Merapi dari dekat. Sedikit tentang mas Stefanus, dia temanku dari ICI Reg Sleman (Inter Club Indonesia Regional Sleman) dan juga bos saat aku jadi resseler dulu.


Hari kedua.

Tidurku malam ini tidak nyenyak mungkin karena badan sakit abis jalan-jalan kemarin, tapi tetap tidak menghentikan niatku untuk jalan hari ini. Pukul 06.00 aku sudah stand by di depan mesjid malioboro menunggu mas Stefanus, dan ternyata dia juga baru jalan dari rumah. Alhasil aku mencari sesuap nasi (baca : sarapan) untuk ganjal perut. Aku memesan gudeg yang rasanya manis dan eneg itu. Bukan tidak suka gudeg, mungkin karena porsinya yang kebanyakan jadi buat eneg, malahan selama di jogja aku selalu makan gudeg lho. Sambil makan aku menyapa cewek di sampingku (lagi makan juga) yang dari tadi keliatan bingung lihat sana lihat sini. Aku bertanya dari mana asalnya, sama siapa, dan tinggal dimana dia menjawab dari dari Surabaya, sendirian, di kos temen. Alhasil pikiranku melayang tinggi untuk mengajaknya ngetrip bareng. Tapi sungguh sayang aku sudah ada janji dengan mas Stefanus, gak mungkin aku batalin karna dia udah di jalan. Sempat nyesal sih kenapa gk nanya nama dan nomor hp nya. mana tau kita jodoh neng. haha.

Tak lama berselang mas Stefanus sampai dan motor pun langsung tancap gas ke Magelang. Mas Stefanus banyak cerita soal Jogja dan Magelang yang membuatku seperti jalan dengan guide gratis di atas motor besarnya. Sampai di Borobudur dia berpamitan karena ada acara yang tak bisa di tinggal. Alhasil ke Merapi nya juga di batalin besok. Tak apa lah, kemarin juga sendirian di Prambanan masa di Borobudur gak bisa.

Tiket Borobudur sama dengan Prambanan Cuma Rp.30.000 kita sudah puas menikmati bangunan bekas kerajaan Hindu tersebut. Sama seperti di Prambanan kemarin aku juga takjub melihat bangunan ini yang megah dan di kerubungi oleh banyak cabe-cabean dan terong-terongan ini. Libur sekolah bro, harap maklum. Puas mutar-mutar dan foto-foto aku langsung turun. capek yang kemarin di tambah hari ini buat kaki ku tak tahan lagi untuk jalan. Akhirnya aku istirahat di depan borobudur sambil melihat megahnya bangunan itu sambil berfikir bagaimana cara agar aku bisa berfoto di depan borobudur. Bermodalkan bhs. Inggris yang cuma 1,5% aku beranikan untuk meminta para nyonya-nyonya bule di sebelahku. Dan hasilnya amaijing. Ini diaa..


 ini di fotoin nyonya-nyonya bule


 yang ini di fotoin om-om bule


Keluar gerbang borobudur aku lanjutkan jalan kakiku menuju terminal untuk naik bus kembali ke jogja. di terminal yang keadaannya tak jauh beda seperti terminal di Peureulak, Aceh Timur ini aku melihat ada 1 pasang sejoli yang juga baru dari borobudur. Dan merekalah yang menjadi teman perjalananku hari itu. Dia menyapaku duluan lalu setelah itu kami ngobrol banyak. Sebelum akhirnya obrolan kami di rusak oleh orang India yang tidak tahu jalan pulang ke hotel nya. Dengan sok tahu aku langsung mengajaknya bicara dengan bhs. Inggris dan ternyata aku keteteran, gaya bicaranya cepat, susah di mengerti dan lucu (padahal emg aku-nya yang gak bisa bhs. Inggris). Dan disinilah ujian bhs. Inggris ku di mulai. Dengan kalimat yang patah-patah dan “to be” yang tak ada sama sekali aku berhasil mengajaknya bicara.  Dan juga di bantu Indra teman ngobrol ku tadi. Selama perjalanan menuju jogja aku di buat pusing dengan si india ini, dia sibuk menanyakan soal hotelnya dan aku tetap menjawab “you follow me, and i show you way to hotel” tak perlu lengkap, asal dia mengerti saja sudah cukup buat ku.

Kami sampai di terminal bus jombor dan lanjut menunggu trans jogja yang menuju malioboro, si india yang namanya susah untuk disebut dan juga susah untuk di ingat ini malah sok tau sendiri. Mungkin dia tidak mau merepotkan orang lain makanya jalan sesuka hatinya. Kami memanggilnya untuk ikut dengan kami, di shelter jombor indra menjelaskan rute bus yang harus dia naiki “from here you ride this bus after that..bla,bla,bla,bla..” kami berpisah dengan si india di shelter jombor dengan wajah yang masih bingung dia berpamitan dengan kami “thank you so much, see you again” ucapnya.

Di malioboro kami bertiga makan di warung pinggir jalan yang harganya juga masih terjangkau untuk kantong, aku menyantap nasi plus telur dadar panggang yang namanya aneh, rasanya biasa tapi membuat perutku tahan lapar selama lebih 5 jam (biasanya aku tidak bisa tahan lapar 5 jam keatas) yang membuat aku bahagia adalah saat indra dan pacarnya membayar makananku memang harganya murah tapi niat baiknya itu yang buat aku bahagia serta kagum dengan 2 anak muda ini.

Mereka menginap tepat di depan losmen ku yang harganya tidak jauh beda dariku. Sore menjelang kami lanjut menjelajahi jogja. tujuan kali ini tugu jogja yang jaraknya hanya 1 km dari malioboro. Balik dari tugu kami menyusuri jalan menuju 0 km jogja dan ini yang ke-2 bagiku setelah tadi malam tentunya. Pacar indra yang sudah tidak kuat dengan kakinya yang lecet memutuskan untuk membeli sendal di pinggir jalan dan aku juga mengikutinya karena aku juga kepanasan dengan sepatu yang ku pakai, untuk kedua kalinya mereka membayar jajananku. Aku tak sampai hati dengan mereka dan sampai ingin mengancam untuk membunuh mereka jika tidak mau menerima uang dariku. Tapi mereka tetap bergeming. Dan aku kembali bahagia. Hahaha.

Lelah mutar-mutar di 0 km jogja kami memutuskan untuk makan malam di dekat pasar beringharjo, dan lagi lagi aku di teraktir oleh sepasang sejoli yang amat baik ini. Tidak sampai disitu, sampai oleh-oleh yang aku tak mau membelinya pun mereka belikan untukku. Sungguh bahagia rasanya mendapat teman satu perjalanan seperti ini. Sering-sering ya. Haha.

Malam semakin larut aku dan indra pun beripsah di losmen, tapi ceritaku malam itu belum berakhir, yang punya losmen sebut saja mas budi (karena aku tidak tahu dan lupa menannyakan namanya) mengajakku ngobrol sampai larut malam. Obrolan yang membuat hilang kantukku yang berat. Cerita bermula dari perjalananku yang biasa saja lalu berlanjut tentang kisah gunung merapi, perjalanan menggunakan kereta api, pengalaman pribadi, sampai jejak islam di tanah jawa khususnya jogja. Aku begitu tertarik dengan jejak islam di jogja yang di ceritakan mas budi. Banyak buku yang di tunjukkan mas budi kepadaku tapi tak bisa kubaca satu per satu karena memang banyak sekali. Mas budi pun menyarankan aku untuk membeli satu buku agar fikiranku bisa lebih terbuka dan bisa mengerti akan semua yang ada di dunia ini. obrolan yang panjang membuatku lapar lalu memutuskan untuk mencari makan lagi dan menikmati malam terakhir di jogja saat itu.

Pukul 6 pagi aku di buat pusing dengan keputusanku sendiri untuk bertahan satu malam lagi atau pulang. 15 menit aku duduk di depan ATM yang sedang menungguku untuk melakukan transaksi dengan pihak trav*loka. Setelah berfikir panjang dan akhirnya keputusan kubuat untuk pulang saja hari itu dikarenakan banyak masalah yang menerpa kantongku.

Lagi-lagi gudeg menjadi sarapan andalanku yang membuatku rindu selama perjalananku di jogja. Setelah sms dan telfonku tak di gubrisnya, aku menjemput indra di losmennya. Fikiranku jadi porno saat itu. Yah, maklum saja lah kayak gak pernah jalan bareng pacar aja. Hehe. Lalu aku menitip pesan kepada penjaga losmen dan aku berangkat sendirian lagi. berniat untuk jalan ke keraton tapi aku takut ketinggalan pesawat seperti sebelumnya. Lalu ku putuskan untuk berjalan di pasar beringharjo yang masih sepi pagi itu. Pukul 9 tepat aku lanjut jalan ke bandara dengan trans jogja yang ku prediksi memakan waktu lama. Tapi prediksiku kali ini salah, hanya dengan waktu 30 menit saja trans jogja itu sudah sampai di halte bandara. Aku mendongkol, sakit hati, menyesali keputusan bodoh yang kubuat. tak lama di bandara indra membalas sms ku “mau jalan kemana mas?” aku balas “saya udah di bandara ini ndra, kamu mau langsung ke prambanan ya?”. (indra memang sudah janji akan ke prambanan hari ini) “gak mas, aku mau ke keraton dulu baru lanjut ke prambanan. Pesawat jam berapa mas?”, “pesawat jam 12.45 ndra, ya udah hati-hati  ya. Kapan-kapan kita ketemu lagi”. “kenapa cepat banget sampe bandaranyanya mas. Takut ketinggalan pesawat ya. Haha” sakit hatiku makin menjadi. Aku berandai-andai di semen panasku saat itu. Andai saja aku langsung jalan ke keraton, andai saja kemarin ke borobudurnya agak siangan, andai aku tak punya janji dengan mas stefanus, andai aku tak mutar-mutar di jogja 2 jam dengan trans jogja saat itu, andai aku ambil penerbangan besok. Aaaakkhhhh.... hati ku benar-benar tak terima dengan semua ini. tapi semua sudah terjadi. Di balik semua itu selalu ada makna besar yang tersimpan. Tetap bersyukur kepada-Nya itulah yang membuatku tenang.

Aku besyukur dengan perjalananku kali ini, memang hanya 3 hari dan tidak banyak tempat yang aku kunjungi, tapi orang-orang baru yang saling berbagi yang aku temui saat perjalanan membuat aku selangkah lebih maju dari diriku hari itu.


Bagiku backpacker bukan hanya sekedar mengabadikan semua momen dan liburan “murah” semata tapi lebih dari itu. Backpacker adalah bagaimana cara kita saling berbagi kepada masyarakat setempat “dalam hal apapun”.



ini om-om bule di borobudur 

yang ini di prambanan

yang ini indra dan kekasihnya